Senin, 26 Oktober 2009

Ibu Diperkosa Anak Kandung


Namaku Tini, usia 49 tahun, saat ini aku tinggal di kota Cirebon. Tetangga ngajdkiri kananku mengenalku dengan sebutan bu Haji. Ya, di blok komplek rumahkuypvas ini, hanya aku dan suami yang sudah naik Haji. Suamiku sudah pensiun dari ebdthDepartemen Luar Negeri. Kini ia aktif berkegiatan di masjid Al Baroq dekat oykftrumah. Aku pun aktif sebagai ketua pengajian di komplek rumahku ini. Tetanggwxpqga kami melihat keluargaku adalah keluarga harmonis. Namun mereka bertanya-ipfmtanya, mengapa anakku masih kecil, masih berusia satu tahun, padahal aku su [17tahun2.com] dah berusia hampir 50 tahun. Aku bilang saja, yah, maklum, rejeki datang lafigwgi pas usia saya senja begini, mau diapakan lagi, tidak boleh kita tolak, huiaqarus kita syukuri.

Sebenarnya aku punya anak lagi, anakku yang sulung, lzxwbaaki-laki, dan saat ini mungkin ia sudah berusia 26 tahun. Namanya Roni. Seb [17tahun2.com] elum kelahiran anakku yang masih bayi ini, Roni adalah anak tunggal. Sampai [17tahun2.com] akhirnya aku usir dia dari rumah ini dua tahun yang lalu. Dan sampai detikwmpadj ini, suamiku, Beny, atau orang akrab memanggil dia Pak Haji Beny atau Pak cvfxlUstad, ia belum tahu alasan mengapa Roni meninggalkan rumah sejak dua tahunbxun yang lalu itu, jika suamiku bertanya padaku, aku terpaksa berbohong, bilanhucng tidak tahu dan pura-pura kebingungan. Walaupun aku tahu, karena akulah yazyhging mengusir Roni dari rumah tanpa sepengetahuan suamiku.

Cerita sedih inepnii berawal ketika Roni yang selama 15 tahun kami tinggalkan hidup dengan Nenlmwneknya di Cirebon, akhirnya kumpul bersama dengan kami layaknya keluarga. Biecplqksa aku tinggalkan selama 15 tahun karena aku dan suami harus tinggal di Belpyvfanda. Saat aku dan suami ke Belanda, Roni baru berusia delepan tahun, ibukuqmxcda (nenek Roni) tidak ingin jauh dari Roni, beliau mungkin takut Roni akan te [17tahun2.com] rbawa arus kehidupan eropa dan lupa adat indonesia. Jadilah Roni tinggal diyvhdju Cirebon bersama ibuku, lalu aku dan suami tinggal di Eropa.

Lima belas rcwhdtahun kemudian, aku dan suami pulang ke tanah air, sebelum pulang aku dan swcyhkauami menyempatkan diri untuk naik haji. Setelah pulang menunaikan haji, akuyscwu dan suami pulang ke tanah air dan pergi ke Cirebon. Tak kusangka anakku susanddah besar, ya Roni telah berusia 23 tahun. Kami lihat ia tumbuh menjadi anafjumpvk yang sangat soleh, santun dan lemah lembut.

Aku sangat berterima kasih [17tahun2.com] dengan ibu waktu itu, telah membuat Roni tetap menjadi anak yang baik dan lvqnkrajin beribadah. Beberapa bulan setelah kami berkumpul bersama, ibuku (nenehawenk Roni) meninggal. Kami sedih sekali waktu itu.Setelah itu kami hidup sekelgubjuarga bertiga.

Kehidupan keluarga kami sangat sakinah mawadah dan rohmah [17tahun2.com] . Aku bangga sekali punya anak Roni. Ia rajin ke mesjid dan mengaji. Hal it [17tahun2.com] u membuat aku dan suami selalu merasa bahagia. Seakan-akan kami awet muda rsetjdasanya.

Kebahagiaan ini juga mempengaruhi kemesraan aku dan suami sebagapvfdi suami istri. Walaupun kami sudah tua, tapi kami masih rutin melakukan hub [17tahun2.com] ungan pasutri meski hanya satu minggu sekali. Sampai suatu hari, suamiku meljfnndapat tugas dari untuk dinas selama tiga bulan di Qatar. Suamiku mengajak [17tahun2.com] kami berdua (aku dan Roni anakku) namun Roni yang sudah kerasan tinggal di mewxyCirebon menolak ikut, akupun karena tidak mau lagi jauh dengan anakku menollknrjak ikut. Akhirnya hanya suamiku sendiri saja yang pergi.

Hari-hari tanpjhgcpva suamiku, hanya aku dan anakku tinggal di rumah kami. Aku sibuk sebagai keuajzfgtua pengajian ibu-ibu dan memberikan ceramah kecil-kecilan setiap ada arisaerkun di komplek rumahku ini. Roni aktif sebagai remaja masjid di masji Baroq dujihwcekat rumah. Terkadang karena aku sudah berusia hampir 50, aku mudah merasa lpjxicapek setelah berkegiatan.

Suatu siang aku merasa sangat capek, sehabis zynpjopulang memberikan ceramah ibu-ibu di masjid. Aku pun langsung tertidur. Saaathst aku tengah-tengah enaknya merasa nyaman dengan kasurku, aku seperti merasjotfda ada sesuatu yang membuat paha, pinggang dan daerah dadaku geli dan gatal.ubxtk Setengah sadar dan tidak sadar, aku lihat Roni sedang berada di dekatku. Sxrvfmuambil setengah ngantuk aku berkata, "Kenapa Ron? Mama capek nih..."
"Ga, mrqchkza, Roni tahu, makanya Roni pijetin, udah mama tidur aja", balas Roni.
Akufxbk senang mendengarnya, senang pula punya anak yang tumbuh dewasa dan baik sevxhrperti Roni. Oh terima kasih Tuhan.

Lama kelamaan, aku mengalami hari yan [17tahun2.com] g sangat aneh, terutama setiap malam saat aku tidur. Aku merasa, ada sesuatcznpku yang menggelitik daerah sensitifku, terutama daerah selangkanganku. Enak canjisekali rasanya, oh apakah ini setengah mimpi yang timbul akibat hasratku seqitvbagai seorang istri yang butuh kehangatan suami. Ya, aku yakin karena aku dfpwtitinggal suami saat aku lagi merasa kembali muda dan penuh gairah, makanya chvnaku sering sekali mimpi basah setiap malam. Mimpi yang rasanya sadar tidak jdzrysadar, kenikmatannya seperti nyata. Ya, aku menjadi senang tidur malam, kar [17tahun2.com] ena ingin cepat-cepat mimpi basah lagi. Aku menduga ini adalah rejeki dari otkscTuhan, agar gairahku sebagai istri tetap terjaga, dan kebutuhan biologisku fyqctetap tersalurkan walaupun hanya diberi mimpi basah sama Tuhan. Oh... nikmauzgbvt sekali. Aku membayangkan suamiku, Beny, yang berhubungan denganku, oh nikzuidmat sekali. Dan karena seringnya dikasih mimpi basah oleh Tuhan, setiap pagzagci aku bangun aku merasa kemaluanku selalu basah kuyup sampai celana dalamku [17tahun2.com] basah total. Yah, jadinya aku punya kebiasaan baru selalu mandi wajib setiabzsap pagi. Yang aku takuntukan hanya satu, takut saat aku mimpi basah, aku me [17tahun2.com] ngigau dan takut suara mendesahku terdengar anakku Roni. Tapi saat aku liathyjqon dari gelagatnya sehari-hari, nampaknya ia tidak tahu.

Sampai tiga bulanhqbsox lamanya, hampir tiap malam aku selalu mimpi basah, aku jadi heran. Apa pendqmkljyebabnya dari nutrisi yang kumakan atau kuminum sehari-hari ya? Hmm, mungkihqxnn saja. Soalnya aku punya kebiasaan minum teh hijau sebelum tidu. Kata dokttxiwerku itu baik untuk orang setua aku, apalagi biar selalu sehat menjelang us [17tahun2.com] ia setengah abad. Akhirnya aku coba meminum teh hijau, saat pagi hari, malabkwsmnya kucoba tidak minum.

Malam harinya, saat aku tidur, ditengah asyiknyzyenba tidurku, dan gelapnya lampu kamarku. Aku merasa perasaan mimpi basah mulabscqwi datang kembali, yah, mmh, rasanya ada yang menggelitik kemaluanku, sesuatqipyxu yang lembut, oh, bergerak-gerak. Selangkanganku pun ikut tergelitik hinggpzvea aku merasa ada sesuatu yang membuat basah kemaluan dan selangkanganku. Lacrbsadlu berbarengan dengan rasa sensasi pada daerah kemaluanku, sesuatu yang lebfhijput bergerak-gerak menyentuh buah dadaku, bergantian, pertama yang kiri laluajbe yang kanan, kemudian.. Aw!.. Ada rasa hisapan yang lembut hangat namun kuaxoykdzt pada puting buah dadaku yang sebelah kanan. Oh enak sekali, terima kasih wyngjuTuhan, jantungku mulai berdegup kencang, ini rasanya seperi nyata, yah! Tibuohqa-tiba aku merasa tertindih oleh seuatu, hisapan kenikmatan juga tidak berhmjkgnenti. Lalu ada sesuatu yang menusuk masuk ke liang kemaluanku saat itu aku nlweatsetengah sadar terbangun, dan aneh, rasa ini masih kurasakan, setengah sadantqmr aku jelas sekali ternyata memang ada sesuatu yang menindihku, sekilas akuvfdz masih membayangkan ini suamiku, berikut terdengar dari sesuatu itu suara prwdoerlahan yang serak, "ooohgh... Oogghh..."

Siapa ini?! Astaghfirullah!! Splabmcaat aku tersadar penuh dan mataku terbelalak. Dalam keremangan gelapnya kamzrsiar aku sadar bahwa seseorang telah menindihku dan menyetubuhiku!! Lebih kagtsheqet lagi saat aku mendengar suara seseorang yang menindihku itu berkata, "Maaumcizaah... Ayo ma... oughhgh... Uhhh... mamahhh..."

Langsung kudorong dia kotcisuat-kuat!
"Roni!! Kurang ajar!!! ASTAGHFIRULLAAH!!"

Roni langsung berlargqjri keluar kamar, aku pun langsung mengejar sambil menangis penuh amarah.
" [17tahun2.com] Roni!!", bentakku.
"Maafin Roni Ma! Roni ga tahan!", Roni pun menangis taklatkut.
Aku tak kuasa bingung menghadapi perasaan ini, antara kalut, marah, bekywaunci, jijik, sedih dan takut. Hingga terucap kata-kata yang langsung keluar oqdkjdari muluntuku, "Keluar dari rumah ini!!! Kamu bukan anak mama!!! Setan kamdlkjuwu! Binatang kamu ya!"

Roni keluar rumah berlari. Aku duduk lemas menangidblwefs. Jadi, selama tiga bulan ini, baru aku sadari, mimpi basah itu bukan hanybreva sekedar mimpi.
Semua mimpi itu nyata. Anakku!? Anakku sendiri yang melaktedkxyukan ini padaku?!!

Selama dua, tiga minggu aku tidak keluar rumah, bahk [17tahun2.com] an semenjak kejadian itu aku jatuh sakit. Sampai saat itu aku masih tidak htusbabis pikir dan belum lupa kejadian itu, dalam benakku terbesit, ya Tuhan, sgviwzuelama ini anakku telah menodai aku, aku ibunya, selama ini anakku yang selamwepitlu rajin beribadah ternyata adalah setan yang mengumbar nafsunya pada tubuhvbeiku yang mulai renta ini... Dosa apa hamba, ya Tuhan!?

Saat aku menerima xfnpsepucuk surat yang dikirim oleh Roni, tanpa alamat jelas, ia berkata memintckqtuza maaf pada ku, ia mengakui bahwa ia sudah mulai tertarik secara seksual depgwrnganku sejak aku bertemu lagi dengannya, ia bilang aku cantik dan menarik, zfkuia mengaku telah memberi obat tidur pada teh hijau yang selalu aku minum ticehkap malam agar aku teler dan tidak sadar saat ia memperkosaku... Pantas sajazaqrw! Pantas ia selalu bermuka manis menyiapkan teh hijau tanpa kuminta terlebidbqmlh dahulu. Ternyata selama ini anakku adalah Iblis laknat yang merusak semuapltcxnya. Roni pun berkata pada akhir suratnya, bahwa ia tidak lagi akan pulang tjiucrke rumah, ia malu dan merasa bersalah.

Membaca surat itu, aku merasa bewepikxnci sekali! Ya, "Kamu bukan anakku!", Kurobek dan kubakar surat itu.

Searuxbulan kemudian, tepat saat dua minggu sebelum suamiku pulang, aku merasa puvirbsing dan mual. Ya Tuhan, masa sih aku hamil!? Tidak! Ini tidak mungkin!! Akebzhu pun memastikan dengan membeli dan menggunakan tes kehamilan, berdebar-debratlfar aku melihat hasilnya. ASTAGHFIRULLAH! Aku positif hamil! Tidak! Aku mengwqlkipgandung anak dari anakku sendiri!

Aku pun lemas dan sempat sedikit pingsyprtjxan. Aku menangis tiada henti-hentinya. Apa yang harus kukatakan pada suamikjqusomu nanti? Apa yang akan tetangga bilang jika tahu aku ini seorang bu Haji yasicvng hamil hasil hubunganku dengan anak kandungku sendiri? Apa yang akan terj [17tahun2.com] adi! Apa lebih baik aku mati saja!! Tidak aku tidak mau mati! Itu dosa!

seawLalu, saat suamiku pulang, aku tutupi semuanya yang telah terjadi selama ti [17tahun2.com] ga bulan ini. Aku pura-pura menangis karena Roni belum pulang-pulang sudah kpxgdua minggu. Lalu aku dan suami sempat lapor ke polisi. Di tengah-tengah ituxugsl, aku juga pura-pura merasa kangen dengan kedatangan suamiku dan mengajaknyibtjma melakukan hubungan suami istri sesering dari biasanya. Suamiku heran, namqgitun ia maklum, ya yang pikirnya, biasanya aku dan dia berhubungan seminggu sprklekali, ini tidak melakukannya dalam tiga bulan lamanya. Sudah pasti wajar j [17tahun2.com] ika aku selalu minta berhubungan terus.

Dua minggu setelahnya, aku mengcwtnfaku hamil. Suamiku kaget, loh, khan menggunakan kondom? Kok bisa. Aku bilan [17tahun2.com] g saja, mungkin saja jebol. Khan wajar karena kondom tidak akurat 100%. Suahjdnscmiku pun mengangguk setuju. Cuma ia hanya khawatir apakah aku tidak apa-apaaowzb umur segini hamil lagi. Akupun meyakinkan dia tidak apa-apa, walaupun hatifqcinoku meringis dan menangis karena mengingat bayi ini hasil hubunganku dengan rukztsanakku. Tidak! Anakku yang memperkosa aku!!!

"Ma", sapaan suamiku menyadarkan aku dari lamunanku tentang masa lalu. Aku lihat suamiku sudah siap behrjxqurangkat ke masjid.
"Ma, aku pergi ke masjid dulu ya, mama biar jaga si kecvaceqxil yah", pamitnya.
"Iya pa", jawabku.

Ya, si kecil ini telah lahir ke dudsrunia. Saat ini ia berada di pangkuanku. Kuperhatikan wajahnya. Mirip sekali [17tahun2.com] dengan Roni, anakku... Oh bukan... Ayah dari anakku. cpga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar